URGENSI NIAT DAN NIAT YANG BERLAPIS

URGENSI NIAT DAN NIAT YANG BERLAPIS

Oleh: Latif HATAM

Niat memiliki peran yang sangat penting dalam bekerja, antara lain: Pertama, sebagai penentu baik atau buruknya sebuah perbuatan. Rasulullah saw. bersabda: innamal a’malu bin niyat.Artinya: Segala perbuatan itu tergantung niatnya. Redaksi hadits tersebut aslinya panjang yang  isinya menjelaskan bahwa  ada beberapa orang yang memiliki motif yang berbeda dalam berhijrah. Ada yang motifnya karena Allah dan rasul-Nya, ada yang karena dunia, ada juga karena wanita. Semua orang yang berhijrah menempuh jarak yang sama, mengalami kesulitan yang sama dan menghadapai tantangan yang sama. Namun di mata Tuhan apakah nilai mereka sama? Tidak sama. Apa yang membedakan nilai mereka di mata Tuhan? NIAT. Maka alangkah pentingnya menetapkan niat sebelum bekerja.

Kedua, sebagai Penentu bobot sebuah perbuatan. Ibnu Qudamah berkata,”Tidak ada satu perkara yang mubah kecuali mengandung satu atau beberapa niat yang dengan niat-niat tersebut berubahlah perkara mubah menjadi qurbah (berpahala), sehingga dengannya diraihlah derajat-derajat yang tinggi. Maka sungguh besar kerugian orang yang lalai akan hal ini, yang ia menyikapi perkara-perkara yang mubah (seperti makan, minum, dan tidur) sebagaimana sikap hewan-hewan ternak.
Dan tidak selayaknya seorang hamba menyepelekan setiap waktu dan betikan-betikan niat, karena semuanya akan dipertanyakan pada hari kiamat, ‘Kenapa ia melakukannya?’, ‘Apakah yang ia niatkan?’ Contoh perkara mubah yang diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah parfum (minyak wangi), ia memakai minyak wangi dengan niat untuk mengikuti sunnah Nabi, untuk memuliakan masjid, untuk menghilangkan bau tidak enak yang mengganggu orang yang bergaul dengannya.”

Perkataan Ibnu Qudamah ini sebagai contoh menggandakan niat dalam perkara-perkara mubah.Maka, alangkah ruginya jika berkerja yang menghabiskan porsi terbesar dalam hidup kita, tidak kita beri bobot dengan niat baik yang berlapis. Mari kita simak kisah di bawah ini.

Kisah Dua Petugas Penjaga Pintu Kereta Api

Ada dua orang petugas penjaga pintu kereta api. Petugas pertama dan petugas kedua niatnya berbeda. Petugas pertama berkata,“Saya menjaga pintu kereta api karena tidak ada pekerjaan lain. Sebab saya tidak punya skill yang lain, yang penting setelah selesai tugas setiap bulan saya memperoleh gaji.”Orang kedua niatnya berbeda, ia berkata,“Ya Allah, aku menjaga pintu kereta api ini aku ingin menolong orang-orang yaa Allah, karena kalau pintu kereta api ini tidak tertutup akan banyak korban kecelakaan tertabrak oleh kereta api, kalau yang tertabrak adalah seorang bapak maka anak-anaknya menjadi anak yatim, kalau yang tertabrak kereta adalah pimpinan perusahaan maka karyawan-karyawan nasibnya bisa terbengkalai, sedangkan karyawan itu punya keluarga, kalau yang tertabrak seorang menteri atau presiden ini Negara bisa terjadi kekacauan, yaa Allah aku bekerja ini dalam rangka niat menolong jutaan umat manusia.”

Kedua petugas tersebut memiliki pekerjaan yang sama, hak dan kewajiban yang sama, namun di mata Tuhan berbeda nilainya. Yang membedakan keduanya adalah niat. Petugas pertama hanya memperoleh pahala mencari harta yang halal. Sedangkan petugas kedua, selain memperoleh nilai mencari harta halal, ia juga memperoleh pahala menolong orang banyak.

Dari kisah dua petugas penjaga lintasan kereta api di atas, kita bisa tebak mana di antara kedua petugas tersebut yang lebih termotivasi. Tentu yang kedua. suatu saat karyawan pertama sedang makan, lalu kereta api datang. Pintu kereta api yang belum otomatis pun harus diturunkan. Karyawan pertama berkata,“Ah, lagi enak-enaknya makan harus nutupin pintu kereta api, huh mengganggu orang yang sedang enak makan!” Akhirnya dia tutup pintu rel kereta api itu sambil berkeluh kesah. Tetapi orang yang kedua berbeda. Saat ia sedang makan kemudian datang kereta api ia berkata,“Alhamdulillah, tugas utama kini tiba, inilah pekerjaan mulia yang menyelamatkan  puluhan, ratusan  bahkan ribuan orang  manusia, saya akan tuntaskan itu.” Lalu ia tutup pintu kereta api, setelah selesai dia buka lagi pintu lintasan kereta lalu dia ucapakan “Alhamdulillah saya sudah menolong orang banyak.” Maka kita bisa menebak yang mana dari kedua karyawan tersebut yang lebih termotivasi, mengapa? Karena petugas kedua dapat mengetahui dan menggali makna dibalik pekerjaannya.  Selain itu, orang yang memiliki niat yang mulia tidak mudah bosan, kita tahu bahwa betapa banyak orang yang mudah bosan dengan pekerjaanya.

Mari kita hitung kegiatan kita dengan waktu yang dibutuhkan pada hari-hari kerja, durasi 24 jam  dengan beberapa asumsi: Tidur 6 jam,  makan 2 jam, kerja dan perjalanan 12 jam,  kegiatan lain-lain ( misalnya nonton tv, kumpul dengan keluarga, menyalurkan hobi) 4 jam.

Mari kita lihat,  dari penjelasan di atas, ternyata porsi terbesar hidup kita adalah untuk bekerja. Alangkah ruginya jika porsi terbesar dalam hidup kita ternyata tidak berdampak bagi pembangunan akhirat kita. Meskipun incomenya triliunan, namun kalau tidak membangun akhirat sama dengan GAGAL TOTAL!

Pengertian Multiple Motives

Multiple motives adalah motif-motif atau niat-niat positif yang berlapis.  Arti motif adalah: 1) kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force)  2)  satu dorongan (drive), terutama digunakan untuk menyebut motif-motif dasar, sehingga motif berbeda dengan motivasi. Motif adalah dorongan, sedang motivasi adalah faktor atau kekuatan yang mendorong. Kata lain dari motif adalah niat. Rasulullah bersabda: sesungguhnya perbuatan itu tergantung niatnya (motifnya). Dan seseorang memperoleh sesuai dengan yang diniatkan…. (HR Bukhari & Muslim). Begitu pula baik buruknya pekerjaan seseorang di mata Allah ditentukan niat/motifnya. Besar kecilnya ganjaran dari Allah juga tergantung motifnya. Alangkah penting arti motif yang baik bagi pekerjaan. Imam Abu Dawud berkata bahwa hadis tersebut merupakan separuh agama. Karena agama terdiri atas zhahir dan batin. Sedangkan niat adalah urusan batin. Benar dalam niat, maka benar dalam separuh agama. Rusak dalam niat, maka rusak pula separuh agama.

Seseorang yang melakukan perkejaan, memiliki  motif niat yang berlapis. Namun, tidak semua orang mampu untuk mengurai lapisan-lapisan niat tersebut. Ketidakmampuan ini membuat orang tersebut tidak mampu memakna dan menghargai pekerjaannya sehingga berdampak kepada penurunan produktivitas kerjanya. Salah satu metode untuk mengurai lapisan-lapisan niat itu adalah metode mindmapping.

Mindmapping

            Mindmapping atau peta pikiran adalah salah satu metode pelatihan Radix Training & Consulting yang digunakan dan  terbukti mampu menggali dan menyadarkan peserta tentang makna dan motif kerja .

Metode  mindmapping ini pertama kali diperkenalkan oleh Buzan pada awal 1970-an yaitu, seorang ahli dan penulis produktif di bidang psikologi, kreativitas dan pengembangan diri. Buzan (2012) mengungkapkan bahwa mind mapping adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara hafiah yang akan “memetakan” pikiran. Sejalan dengan hal tersebut Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2007) mengatakan bahwa peta pikiran (mind mapping) adalah metode mencatat kreatif yang memudahkan kita mengingat banyak informasi.

A mind map is a diagram used to represent words, ideas, tasks, or other items linked to and arranged around a central key word or idea. Mind maps are used to generate, visualize, structure, and classify ideas, and as an aid in study, organization, problem solving, decision making, and writing (http://en.wikipedia.org/wiki/Mind_map). Mind map atau peta pikiran adalah sebuah diagram yang digunakan untuk mempresentasikan kata-kata, ide-ide (pikiran), tugas-tugas atau hal-hal lain yang dihubungkan dari ide pokok otak. Peta pikiran juga digunakan untuk menggeneralisasikan, memvisualisasikan serta mengklasifikasikan ide-ide dan sebagai bantuan dalam belajar, berorganisasi, pemecahan masalah, pengambilan keputusan serta dalam menulis.

Sementara itu Bobbi DePorter dan Mike Hernacki  mengungkapkan bahwa peta pikiran menggunakan pengingat-ingat visual dan sensorik dalam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan, seperti peta jalan yang digunakan untuk belajar, mengorganisasikan, dan merencanakan. Peta pikiran ini dapat membangkitkan ide-ide orisinal dan memicu ingatan yang mudah. Sejalan dengan hal tersebut, Wycoff berpendapat bahwa pemetaan-pikiran atau peta pikiran adalah alat pembuka pikiran yang ajaib.

Mind mapping juga merupakan cara paling efektif dan efisien untuk memasukkan, menyimpan dan mengeluarkan data dari/ke otak. Lebih lanjut Buzan (2012) berpendapat bahwa mind mapping adalah cara mudah menggali informasi dari dalam dan dari luar otak. Dalam peta pikiran, sistem bekerja otak diatur secara alami. Otomatis kerjanya pun sesuai dengan kealamian cara berpikir manusia. Peta pikiran membuat otak manusia ter-eksplor dengan baik, dan bekerja sesuai fungsinya. Seperti kita ketahui, otak manusia terdiri dari otak kanan dan otak kiri. Dalam peta pikiran, kedua sistem otak diaktifkan sesuai porsinya masing-masing. Kemampuan otak akan pengenalan visual untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya (Buzan, 2012). Dengan kombinasi warna, gambar, dan cabang-cabang melengkung, akan merangsang secara visual. Sehingga infomasi dari mind mapping mudah untuk diingat.

Dari berbagai pendapat para ahli tersebut, dapat lebih ditegaskan lagi oleh John W. Budd yang mengungkapkan bahwa A Mind Map is an outline in which the major categories radiate from a central image and lesser categories are portrayed as branches of larger branches.  Yang berarti bahwa peta pikiran (mind mapping) merupakan garis besar dari kategori utama dan pikiran-pikiran kecil yang digambarkan sebagai cabang dari cabang pikiran yang lebih besar. Dengan peta pikiran daftar informasi yang panjang dapat dialihkaan menjadi diagram warna-warni, sangat teratur, dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami otak dalam melakukan berbagai hal.

Contoh Multiple Motives Yani, seorang tax & accounting manager sebuah bank swasta nasional setelah mengikuti training spiritualitas kerja yang diselenggarakan oleh Radiks Training & Consulting ia begitu tercengang karena setelah sekian lama bekerja dan meniti karir ia mengetahui betapa banyaknya motif pekerjaan yang ia lakukan.Ternyata selama ini ia tidak hanya bekerja untuk dirinya sendiri atau untuk perusahaannya, tetapi juga untuk anaknya, suaminya, orang tuanya, karyawan yang lain bahkan juga untuk negara. Namun semua motif-motif tersebut ia muarakan kepada satu motif utama, yaitu bekerja untuk Tuhan!

Tuhan Sebagai Muara Motif

Seorang pekerja yang spiritualistik akan mengarahkan semua motif-motif pekerjaannya kepada satu motif utama, yaitu kepada Tuhan. Dengan mengarahkan semua motif kepada Tuhan, karena Tuhan, maka pekerja tersebut dalam melakukan pekerjaannya akan selalu mengingat Tuhan. Lalu, apa keuntungan yang diperoleh dengan selalu mengingat Tuhan?

Dalam penelitian terkini ditemukan bahwa ketika seseorang melakukan kesalahan lalu menyesal dan mengingat Tuhan, berharap semoga Tuhan memaafkan, maka secara langsung berdampak pada perasaan hati yang menjadi lebih tentram.

Hal tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti dari Kanada yang dikutip oleh Lusia Kus Anna dan tulisannya dimuat di Health Kompas.Com, Sabtu, 7 Agustus 2010 dengan judul Mengingat Tuhan Menentramkan Hati .

Tulisan itu menyebutkan bahwa para peneliti dari Kanada itu menemukan bahwa orang-orang yang mengingat Tuhan, rasa cemas mereka setelah berbuat kesalahan menjadi berkurang. Ketika otak mereka dipindai, terlihat adanya respon otak yang berbeda ketika mereka memikirkan tentang Tuhan.

Lewat dua eksperimen, para peneliti menemukan bahwa ketika seseorang memikirkan tentang agama dan Tuhan, otak mereka bereaksi secara berbeda dan hal ini menyebabkan seseorang yang tadinya dilanda kecemasan menjadi lebih tenang.

Ketika seseorang memikirkan tentang Tuhan dan agama, baik secara sadar atau tidak sadar, aktivitas otak di area anterior cingulate cortex (ACC) akan menurun. ACC adalah bagian otak yang berkaitan dengan hal-hal bersifat angka, mengatur kesadaran dan gairah serta mengingatkan kita ketika kita berbuat kesalahan.

Yang menarik, pada orang-orang yang ateis atau tak percaya Tuhan, ketika mereka secara tidak sadar disinggung dengan ide mengenai Tuhan, otak bagian ACC justru lebih aktif. Para peneliti menduga hal ini terjadi karena pikiran tentang Tuhan bertentangan dengan sesuatu yang mereka yakini sehingga hal itu justru meningkatkan stres.

“Memikirkan tentang hal yang religius akan membuat kita lebih tenang ketika kita dihadapkan dengan hal yang membuat stres seperti melakukan kesalahan,” kata Michael Inzlicht, dari University of Toronto yang melakukan penelitian ini. *

admin Tedi

Hafal Tanpa Menghafalkan

Leave a Reply