MARI MENGENAL DIRI!

MARI MENGENAL DIRI!

Oleh: Latif HATAM

Mengapa kita perlu mengenai diri? Karena dengan mengenal diri sangat membantu kita untuk dapat segera menjalin hubungan dengan Tuhan, pusat dari spiritualitas kita. Memahami bahwa kita tidak tercipta secara kebetulan (by chance). Jika kita menginternalisasi dan menghayati akan keberadaan diri kita, maka kita akan sampai kepada kesimpulan yang tak terelakkan bahwa Tuhanlah yang mencipta seluruh keberadaan. Selain itu, manusia secara natural senantiasa mencari alasan keberadaannya. Darimanakah kedatanganku ? Ke mana langkah yang aku tuju ? Untuk tujuan apa keberadaanku ? Dengan mengenal diri, kita akan memperoleh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut.

Mengenal diri sendiri juga dapat membantu kita mengetahui kemampuan dan bakat dalam diri kita. Demikian juga sebaliknya jika kita mengenal diri kita maka kita juga mengetahui kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita. Dengan demikian kita dapat menjadi diri kita sendiri. Apalagi, kunci proses pengembangan diri adalah mengenal diri sendiri. Ini tidak hanya berlaku bagi keberhasilan di bidang karier, melainkan juga di berbagai bidang kehidupan lainnya, termasuk keluarga, sosial masyarakat, dan spiritual. Dengan mengenal diri sendiri,  kita mengetahui apa yang mesti jadi tujuan hidup kita.  Kita dapat menyadari kemampuan dan bakat-bakatnya serta tahu bagaimana menggunakannya demi mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian kita lebih mampu menemukan makna dan kepenuhan dari hidup kita.

Apa dan Siapa itu Manusia?

Untuk mengenal diri sendiri, jawablah pertanyaan ini: Apa dan siapa itu manusia? Ini bukan pertanyaan baru yang lahir di abad ini. Pertanyaan ini sudah dilontarkan oleh manusia sendiri sejak era para filosof awal bahkan sampai sekarang. JIka dulu jawaban itu ditemukan melalui proses penalaran, maka di era sekarang ini, jawaban itu dapat ditemukan melalui serangkaian penelitian fisiologi sampai tingkat DNA.

Ungkapan Arab menyatakan bahwa manusia adalah hayawaanun naathiq, hewan yang berbicara. Jika mengikuti ungkapan ini, maka hakekat manusia sama saja dengan hakekat hewan yang terdiri atas kulit, daging, organ-organ dalam, darah, urat, otot, tulang dan cairan. Bedanya, manusia bisa berbicara sedangkan hewan tidak. Apakah benar demikian? Apakah hanya berbicara saja yang membedakan manusia dengan hewan? Apakah hanya sebatas itu hakekat manusia?

Islam sejak ribuan tahun lalu telah mengungkapkan hakekat manusia. melalui Al-Qur`an dan Al-Hadits. Menurut Al-Qur`an, asal fisik atau tubuh dan organ manusia yang diistilahkan dengan basyar diciptakan Allah swt. dari saripati tanah. Kemudian, berbentuk nutfah, kemudian berbentuk alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk yang paling sempurna yang memiliki berbagai kemampuan. Al-Qur’an tidak menjelaskan asal-usul kejadian manusia secara rinci. Dalam hal ini Al-Qur’an hanya menjelaskan mengenai prinsip-prinsipnya saja. Ayat-ayat mengenai hal tersebut terdapat di dalam Al-Qur`an surat Nuh 17, Ash-Shaffat 11, Al-Mukminuun 12-13, Ar-Rum 20, Ali Imran 59, As-Sajdah 7-9, Al-Hijr 28, dan Al-Hajj 5.  Al-Qur’an menerangkan bahwa manusia berasal dari saripati tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : turabthinshal-shal, dan sualalah. Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah swt. dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya, Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci.  Setelah adam dan Siti Hawa melakukan proses perkawinan, manusia kemudian dilahirkan dari rahim Siti Hawa dan para ibu kemudian, yang proses penciptaannya dimulai sejak pertemuan antara spermatozoa dengan ovum.

Hakikat Manusia adalah Ruh (Jiwa, Spirit)

Namun, basyar atau fisik manusia bukanlah hakekat manusia.  Hakekat manusia adalah ruh. Mengenai hal ini, Allah swt. ingatkan dalam ayat-Nya berikut ini: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS Al-Insaan, 76:1). Seorang filosof, Teilhard de Chardin mengatakan,“We are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience”.

Pernyataan bahwa hakekat manusia adalah ruh tidak hanya berasal dari Islam. Jauh sebelum Islam diturunkan kepada Rasulullah saw., pernyataan  ini sudah keluar dari para pemikir atau filusuf, seperti Plato ((477-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM), dua filosof terkemuka dari Yunani. Mereka menyatakan jika manusia itu psyiche, ruh, perbedaan keduanya pada tempat ruh bersemayam dan fungsi ruh.

Plato  berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian bisa bersarang di tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat ini kemudian dikenal dengan istilah Trikotomi. Menurut Plato, ketiga unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain, seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trikotominya, Plato mengatakan bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan kesadaran inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri bentuk-bentuk aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun hasil akhir dalam kehidupannya.

Sedangkan Aristoteles berbeda pendapat dengan Plato yang juga gurunya. Menurut dia,  jiwa itu adalah daya hidup bagi makhluk hidup. Jadi, di mana ada hidup di situlah ada jiwa. Daya kehendak dan mengenal merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian pendapatnya ini dikenal dengan istilah dikotomi. Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa jiwa sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau berada dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata (realita). Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk sesuatu (tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih dahulu untuk mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini berarti kemungkinan untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan menampak nyata (aktual). Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh sehingga mengaktualisasi dalam bentuk tingkah-laku. Sebelum tingkah laku itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan (potensial) dan setelah terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap kejadian (hule) pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri manusia terdapat unsur Hule-Morpheisme.

Pembahasan Ruh di Zaman Renaissance

Pada zaman Renaissance, ruh tidak menarik lagi untuk dibahas karena para pemikir pada zaman itu umumnya berpaham materialisme. Materialisme adalah suatu aliran filsafat yang berisikan tentang ajaran kebendaan, benda merupakan sumber segalanya. Aliranmaterialisme tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran ini kemudian masuk ke semua disiplin ilmu, dari kedokteran sampai psikologi selama ratusan tahun. Di bidang kedokteran dan psikologi, aliran ini menghasilkan teori bahwa manusia itu adalah tubuh, pusatnya di otak.

Pengikut materialisme di kedokteran dan psikologi menganggap otak manusia seperti mesin produksi: Segala yang dikeluarkan oleh manusia (output) tergantung dari yang dimasukkan ke otaknya (input). Jika kejahatan yang dimasukkan, maka manusia itu menjadi jahat. Sebaliknya, jika kebaikan yang dimasukkan, maka manusia itu menjadi baik.  Jika ajaran Kristen yang dimasukkan, maka manusia itu menjadi Kristen, Jika ajaran Islam yang dimasukkan, maka manusia itu menjadi Islam, dan seterusnya.

Namun paham ini lambat laun mendapat kritikan karena banyak kasus anak-anak rohaniawan yang dididik di lingkungan yang baik, menjadi penjahat. Banyak pula anak-anak dari pengikut Kristen yang taat dan dididik di lingkungan Kristen kemudian keluar dari agama Kristen. Begitu pula anak-anak dari orang Islam yang taat dan seterusnya.

Ruh Dalam Pandangan Islam 

Memang banyak orang menyangka kalau kehadirannya sebagai manusia bermula sejak ia dilahirkan secara biologis, atau setidak-tidaknya sejak ia terbentuk sebagai janin di dalam rahim ibunya. Banyak orang menyangka keberadaan dirinya bermula sebagai keberadaan fisik material. Sesungguhnya manusia adalah makhluk spiritual, yang sudah dicipta di sisi Tuhan jauh sebelum tubuh biologisnya dicipta di bumi. Manusia adalah makhluk langit. Tubuh biologis adalah cangkang yang mewadahi keberadaan manusia selama di muka bumi. Allah swt. berfirman: “Sesungguhnya Akulah pencipta basyar dari tanah” (38:71). Basyar adalah wujud fisik, jasad manusia.

Allah Swt. kemudian menciptakan ruh yang dimasukkan ke dalam basyar: “Ketika sudah Kusempurnakan lalu Kutiupkan ke dalamnya sebagian dari  ruh-Ku” (38:72). Jika manusia sejatinya adalah makhluk ruhaniah, mengapa Allah swt. menciptakan basyar? Karena, ruh tidak bisa mengelola bumi tanpa basyar. Bagaimana ruh bisa mengelola perusahaan, membangun infrastruktur, memakmurkan bumi serta mengeksplorasi alam raya jika tidak ada basyar? Ada saatnya tubuh akan mati, terkubur dan hancur di bumi, menyatu lagi dengan tanah yang menjadi asalnya. Sedangkan sang manusia ruhaniah akan kembali lagi ke Allah penciptanya. Kematian bukan kepergian, tapi kepulangan.

Tak heran kalau dalam masa kehadirannya di bumi manusia lebih banyak memiliki pengalaman-pengalaman spiritual daripada pengalaman biologis yang material. Bahkan pengalaman biologis pun sebenarnya dialami dan dirasakan oleh ruh. Lezatnya makanan adalah sensasi saraf di lidah terhadap komposisi kimiawi makanan, kemudian sensasi itu diteruskan ke otak, lalu otak merefleksikannya ke ruh, dan ruh menginterpretasi dan menamakan sensasi tersebut menjadi rasa. Indahnya lantunan musik adalah gelombang-gelombang suara yang diterima oleh saraf pendengaran, lalu dikonversi menjadi impuls-impuls listrik menuju otak, dan otak merefleksikannya ke jiwa, untuk kemudian jiwa merasakan dan menikmatinya. Semua pengalaman biologis pada dasarnya adalah pengalaman ruhaniah. Semua indera jasmani adalah sensor yang mendeteksi rangsang, sedangkan ruh adalah main processor yang mengolah dengan kesadaran, perasaan, nalar, keyakinan, bahkan motivasi dan kemauan. Namun karena kekurang jelian banyak orang menyangka pengalaman-pengalaman biologis adalah otonom, atau terbebas, dari peran jiwa.*

admin Tedi

Hafal Tanpa Menghafalkan

Leave a Reply