UNTUK APA BELAJAR AL-QUR’AN?

Pertahanan Orang Tua Lemah dan Alakadarnya

Sementara, di sisi lain benteng pertahanan kita, lemah. Bagaimana tidak? Anak-anak kita hanya punya waktu amat sedikit untuk belajar dasar-dasar budaya dan ajaran agamanya sendiri. Kita bisa lihat misalnya, betapa singkat waktu bagi mereka, terutama di kota-kota besar, untuk belajar mengaji ke masjid, surau dan madrasah. Pun demikian, biasanya metode belajar yang diterapkan dalam belajar tentang Islam di kebanyakan tempat hanya alakadarnya saja.

Padahal, waktu bagi anak-anak untuk menyerap budaya asing, baik melalui televisi dengan sinetron dan film-film yang sama sekali tidak mendidik, atau melalui internet justru begitu banyak.

 

Anak-anak Adalah Cermin Keluarga dan Lingkungan

Dalam hal perilaku keagamaan, anak-anak juga kerap meniru, baik melalui pembiasaan di rumah dan sekolah maupun melalui sebuah pembelajaran intensif.

Yang terjadi saat ini, anak-anak justru seringkali mendapatkan nilai-nilai negatif dari beragam media, terutama tayangan televisi, internet, komik, dan lain-lain. Dari media-media itulah memori anak-anak merekam perilaku kekerasan, kejahatan, dendam, dan perilaku-perilaku tidak terpuji lainnya. Lalu pada suatu saat, rekaman dalam memori itu bisa mereka duplikasi ke dalam perilaku kehidupan mereka.

Kesan dari media yang memuat nilai-nilai bebas dan cenderung negatif itu, justru akan lebih kuat tertanam di benak anak-anak dibandingkan kesan nilai-nilai keagamaan atau nilai-nilai qur`ani yang diajarkan di sekolah atau madrasah. Kenapa?

Tentu saja hal ini karena anak-anak lebih menyenangi apa yang disajikan oleh televisi, internet atau media hiburan lain. Sementara membaca, menghafal, memahami, dan mempelajari al-Qur`an menjadi kegiatan yang kurang menarik dan kurang menyenangkan.

DOWNLOAD APLIKASI HATAM

Follow me on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate ยป
WhatsApp chat