Hafal Tanpa Menghafalkan

Siapa dari kita yang pernah merasa menghafalkan kalimat “bismillahi-rrahmani-rrahim”? Mungkin tidak ada. Tetapi mengapa kita hafal? Karena kita sering men-dengarkan. Betul? Bahkan bisa jadi anak-anak kita hafal surah al-Fatihah tanpa pernah merasa menghafalkannya.

Lalu bagaimana kalau kita terapkan pada ayat-ayat lain? Tentu saja, saya meyakini bisa. Bapak saya selalu memperdengarkan ayat-ayat juz ‘Amma. Satu ayat diulang-ulang terus.

Maka ketika itu sembari main kelereng, layangan, sembari makan, mau tidur, kami senantiasa diperdengarkan ayat al-Qur`an. Bapak saya membeli tape recorder entah sudah berapa kali saking banyaknya. Dulu kami masih menggunakan tape dengan kaset, jadi tombol play, rewind, stop selalu rusak duluan. Karena terlalu sering digunakan untuk memutar satu ayat diulang-ulang.

Saat bapak saya mengajarkan hafalan surah Yasin kepada para tetangga, bapak saya memberikan hafalan dalam satu malam hanya satu atau dua ayat. Lalu ayat tersebut diulang-ulang sampai belasan kali. Jamaah pengajian diminta mengikuti ayat-ayat tersebut secara berulang-ulang.

Memotong Ayat-ayat

Bahkan kalau satu ayat dianggap terlalu panjang untuk diikuti, maka bapak saya memotong ayat tersebut menjadi beberapa potongan. Dan yang diulang-ulang adalah potongan ayat tersebut. Misal, dalam surah Yasin ayat 1-5, satu ayat langsung diulang-ulang.

Namun, ayat 6, karena panjang maka bisa dijadikan tiga bagian. Seluruh jamaah akhirnya bisa menghafal surah Yasin, termasuk empat orang non-muslim yang sering ikut bergabung dalam pengajian. Meskipun mereka tidak bisa membaca al-Qur`an bahkan tidak kenal dengan huruf-huruf al-Qur`an. Alhamdu Lillah akhirnya mereka masuk Islam.

The Magical Power Of Repetition (Dahsyatnya Repitisi)

Ada pepatah berbunyi, “Ala bisa karena biasa”. Anak kita pun bisa hafal juz ‘Amma kalau mereka biasa mendengarkannya.

Dalam buku COME, Ustadz Wahfiudin membahas tentang the magical power of repetition, kedahsyatan repitisi atau mengulang-ulang. Dalam buku yang mencerahkan banyak orang tersebut, dibahas mengenai pentingnya pengulangan, dalam hal ini tentu dalam rangka hafal al-Qur`an.

Tua, Muda, Kecil, Dewasa Tetap Mudah Menghafal!

Ada juga potongan syair lagu, “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu,” bait selanjutnya, “Belajar sesudah dewasa bagai melukis di atas air”.

Namun untuk bait kedua,  saya kurang setuju. Bait pertama saya sangat setuju karena memang memori anak di waktu kecil sangat kuat. Namun bait kedua sering dijadikan alasan bagi orang dewasa untuk tidak menghafal al-Qur`an dengan dalih sudah terlalu tua, terlambat, dan sebagainya. Padahal dalam buku “Balita pun Hafal al-Qur`an” ustadz Salafuddin menjelaskan betapa banyak orang tua yang sudah 70 tahun usianya bahkan lebih bisa hafal al-Qur`an.

Maksimalkan Jernihnya Nalar Anak-anak

Kembali kepada bait pertama, “Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.” Maka dari itu, mumpung sedang kuat-kuatnya memori, “Install” terus mereka dengan ayat-ayat al-Qur`an.

Anda bisa putar audio HATAM saat anak Anda bermain, makan, bahkan saat mau tidur dan saat sedang tidur. Saat weekend saya mempersilakan anak-anak saya main game di gadget mereka, namun saya membuat kesepakatan, yaitu sound di dalam game tersebut di-silent-kan dan diganti dengan audio HATAM. Sang anak sedang asyik bermain namun dia secara tidak sengaja sedang “diinstal” ayat-ayat al-Qur`an.

Kalau Anda tidak memasukkan al-Qur`an dalam memori anak, maka hal-hal lain yang akan masuk ke dalam memori mereka.

Menyesuaikan ‘Menu’ Hafalan Anak dengan Pengulangan

Mungkin sudah banyak orang tua yang memperdengarkan al-Qur`an kepada anaknya namun dengan pembacaan biasa, bukan dengan metode HATAM. Maksudnya, hanya satu ayat dibaca satu kali, tidak ada pengulangan dari setiap ayat yang diperdengarkan.

Namun demikian hal itu juga sudah bagus dan anak juga akan mampu merekam bacaan yang hanya sekali lewat. Namun karena hanya sekali lewat, maka hafalan itu tidak tertanam kuat dalam memorinya.

Tentu saja akan jauh lebih kuat dan lebih cepat hafal kalau satu ayat diulang-ulang.  Barulah setelah selesai mendengarkan pembacaan yang diulang-ulang itu boleh mendengarkan bacaan ayat yang hanya sekali lewat.

(Dikutip dari Buku HATAM)

 

Follow me on:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *